mediararakyat

Pembawa Suara Pembangunan Bangsa

Nenek Tihat Luput Dari Pantauan Pemerintah Program RTLH dan Bantuan Tenaga Surya, Belum Menyentuh?

Published on Feb 23 2016 // Berita Utama

Gubuk derita, Ibu Tihas, luput dari pantauan PemerintahNatuna, (MR)
Tihat (53) merupakan salah satu orang-orang tak beruntung dimuka bumi ini. Betapa tidak, diusianya semakin senja, Ia harus berjuang untuk mempertahankan hidup. Janda ditinggal kawin oleh suaminya  itu, sudah seharusnya mendapatkan belas kasih sayang dari Pemerintah daerah. Namun apa daya, Dirinya belum pernah menerima bantuan apapun dari Pemerintah apa lagi soal Rumah Tidak layak Huni (RTLH).

Padahal rumahnya hanya 500 meter dari pemukiman padat penduduk. Harus Kita akui, jalan menuju rumah Tihas, merupakan bangunan semenisasi sepuluh tahun silam. Jika dulu, jalan ini merupakan jalan lingkar ke Desa Peyong. Namun karena tidak ada perawatan, jalan ini sudah rusak dan tidak terurus. Sementara, ada dua rumah bersebelahan dengan rumah Tihas.

Saat dikonfirmasi wartawan koran ini, Ia mengakui, belum satupun orang dari pihak Pemerintah melakukan pendataan terhadap Dirinya. “Kita ini orang susah pak tak gerti apa-apa,” kalau di daerah lain sudah banyak bantuan, baik itu tenaga surya, maupun RTLH. Kami tidak punya saudara di Pemerintahan, karena yang berhak mendata selama ini, dari RT sama lurah.

Dari ketiga rumah itu, Ibrahim merupakan orang yang paling beruntung. Selain keluarganya masih lengkap, Ia telah mendapatkan bantuan RTLH dari Pemerintah.

“Saya baru dapat tahun kemarin pak bantuan ini, cuma tenaga surya belum dapat. Harapan, kiranya bantuan tenaga surya, dapat diberikan kepada 3 KK yang ada di kampung kurak ini. Sebab rumah mereka dikelilingi kebun, jika malam tiba tempatnya sangat gelap. Kepada Pemerintah, jika ada bantuan tenaga Surya, mohon kami diberikan, pinta Ibrahim.

Menanggapi keluhan warganya, Camat Bunguran Barat, AJ. Suhardi mengaku, jika selama ini Dirinya sebagai Pemerintah setempat, tidak pernah dilibatkan dalam pendataan kelayakan penerima bantuan RTLH, maupun tenaga surya. Selama ini pendataan semuanya lewat RT dulu, barulah tim verifikasi datang. Oleh sebab itu sering terjadi kesenjangan dimasyarakat. Apalagi mereka ada ketidakcocokan dengan RT, tak kan dapat ucapnya.

Nah baru-baru ini, ada aturan  melalui Perbup No 18 Tahun 2014. Harus ada rekom Camat. Dengan demikian, Saya sudah buat berita acara, semua calon penerima RTLH, harus  pernah rapat dikantor desa. “Kita juga akan melihat orangnya  mampu atau tidak. Sebenarnya, aturan yang menyatakan penerima RTLH harus punya tanah, sedikit Saya tidak terima. Jika punya tanah berarti, mereka mampu. Kalau dapat dirubah, tak punya tanah tapi miskin, inilah yang harus di bantu. Di Sedanau ini, ada 3 keluarga miskin, hidupnya gontrak terus. Seharusnya orang-orang kayak itu  perlu di bantu.

Sekarang ini, bantuan rumah tidak layak huni, sudah dibatasi.

Untuk kelurahan hanya mendapatkan 15 unit, sedangkan Desa 5 unit. Padahal masih banyak warga Sedanau, belum kebagian bantuan tersebut. Tahun 2013 Bunguran barat mendapatkan 80 unit. 2014 102 unit, tahun ini belum tau. Jika bantuan itu nantinya turun, ibu Tihas akan kami data. Selama ini beliau, tidak punya pondok makanya tidak terdata, ucap salah satu tenaga pendamping dari kantor Camat.

Dari pengakuan Suhardi, sudah jelas bahwa Kabupaten Natuna kaya akan SDAnya, namun masyarakatnya masih banyak yang miskin. Untuk itu Pemerintah Pusat perlu memeragi kesenjangan ini, dengan cara memberikan Natuna Otonomi khusus. >>Roy

Leave a comment