Masyarakat Masih Menolak Perbub 47

Kab. Tangerang, (MR)
Belum ada titik temu antara masyarakat terutama masyarakat Legok, Pegedangan serta Kelapa Dua dengan Bupati Tangerang Ahmaed Zaki Iskandar soal penerapan Perbub No. 47, meskipun sudah diadakan pertemuan dengan masyarakat, sopir angkutan, dan pengepul batu, Senin (04/01), bertempat di gedung pemda Kabupaten Tangerang.
Namun pertemuan ini sia-sia, karena baik masyarakat maupun Bupati beranggapan berbeda, Masyarakat menilai aturan Bupati ini menyiksa mereka, sementara solusi yang di tawarkan  tidak sepadan. Masyarakat menilai bahwa peraturan Bupati ini dapat menyengsarakan mereka dalam hal ekonomi, dan perbub 47 telah menciptakan konflik horizontal di lingkungan Masyarakat.
Sementara Pemerintah sendiri tidak akan mencabut Peraturan bahkan akan tetap melanjutkan penerapan Perbub 47 ini, karna di anggap hal ini demi masyarakat Kabupaten Tangerang secara Keseluruhan, bahkan Zaki memastikan dan akan meminta Pemkab Bogor untuk menyesuaikan peraturan ini.
Zaki mengatakan peraturan yang sudah ada ini tidak mungkin lagi akan di cabut, paling tidak situasi di lapangan  menyesuaikan dengan perbub 47 ini. “Yang tadinya mobil-mobil bertonase besar,di ganti dengan yang bertonase kecil, tadinya mobil-mobil bersumbu lebih dari tiga di ganti dengan mobil bersumbu dua,” jelas Zaki saat kesempatan wawancara wartawan.
Berbeda dengan zaki menurut penuturan Sufriadi yang mewakili warga dan sopir dan pengepul batu. Dia beranggapan bahwa perbub ini secara tidak langsung telah membunuh mata pencarian mereka, bahkan mengancam kelanjutan pendidikan anak mereka.
Menurut keluh kesahnya, ada anak putus sekolah, lantaran tidak mampu membiayai sekolah karena penghasilan orang tuanya yang merosot secara drastis. “Sebelum perbub ini,penghasilan kuli ganjur bisa mencapai seratus ribuan, kini semenjak ada perbub 47 ini, dapat lima puluh ribu aja sulit,” keluhnya.
“Kami bukannya tidak mau kerja yang lain, tapi memang lapangan kerja sulit, ini bukan berbicara profesi tapi ini berbicara perut,” jelas Sufri kepada wartawan.
Selain Sufri, senada juga di ungkapkan Tata Suharta Kadus Desa Malang Nengah Pegedangan, Tata mengungkapkan bahwa dirinya sedih dengan peraturan yang di buat Bupati ini. “Selaku aparat pemerintah, saya mendukung Perbub 47 ini, tapi secara nurani Saya menitikan air mata, melihat banyak warga yang susah akibat perbub ini,” ucapnya.
Lebih lanjut dia mengungkapkan, Perbub ini secara telah menciptakan kekacauan di masyarakat, masyarakat di adu dengan masyarakat.
“Ini bukan kajian,tadinya sebelumnya mobil bisa masuk ke bogor, dengan adanya uji coba ini, kemacetan semakin menjadi, dua hari yang lalu terjadi gontok-gontokan antaran masyarakat dan supir di Karang Tengah, Saya minta jangan korbankan Masyarakat kecil,” pintanya.
Baik Sufri, Tata maupun warga lain yang ikut ke Pemda untuk dialog dengan Bupati pada hari ini, berharap kedepan ada solusi yang lebih baik untuk mereka. >>Alex

Related posts

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.