mediararakyat

Pembawa Suara Pembangunan Bangsa

Laica Pobasaa Picu SDN 33 Kasipute Jadi Sekolah Percontohan

Published on Dec 12 2017 // Investigasi-Report
Bombana, (MR)
Sekolah Dasar Negeri 33 Kasipute, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, akhir-akhir ini menjadi buah bibir. Bagaimana tidak, sekolah yang baru dua bulan dipimpin, Kaslim, A.ma., S.Si, ini langsung menyandang gelar sekolah percontohan.
Pemicunya, Laica Pobasaa (rumah baca) yang dibangun Kaslim untuk mengisi waktu istrahat bagi siswa siswinya. Karena Rumah Baca ini, menjadikan tim penilai Piala Adipura “Jatuh Cinta” dan menetapkan sekolah ini sebagai salah satu dari dua sekolah percontohan di Kabupaten Bombana.
“Alhamdulillah, kemarin (dalam penilaian, red.) piala adipura sekolah kami menjadi salah satu sekolah percontohan,” tuturnya saat ditemui di Rujab Bupati Bombana usai mengikuti peringatan Maulid, Senin (04/12).
Dirinya menjelaskan bahwa ide membangun Laica Pobasaa  bertujuan  untuk  menjadikan muridnya dapat memanfaatkan  waktu istirahatnya untuk  membaca. “Jadi ide awalnya, saat saya duduk duduk di teras sekolah saya melihat aktifitas anak-anak saat istirahat ada yang membaca sambil bermain, dan saat itu saya langsung berfikir untuk buat rumah baca,” jelasnya.
Tidak hanya itu, saat ini Haslim juga memperogramkan pembangunan Mushollah di sekolah yang dipimpinnya. Hal itu ia lakukan sebagai wujud keprihatinannya sebagai alumni di sekolah itu yang hingga saat ini tidak memiliki tempat ibadah. “Jadi kami juga membangun mushollah, saya merasa miris soalnya sekolah ini tempat sekolah saya dulu dan hingga saat ini belum memiliki sarana ibadah, Insya Allah dalam kurun waktu kurang lebih satu bulan musholallahnya sudah dapat digunakan,” paparnya.
Terkait dengan upaya menggenjot pengembangan program sekolah, Kaslim menekankan kekompakan dan kerja sama semua dewan guru. Untuk lebih terarah dan terukurnya capaian program, dirinya menerapkan sistem evaluasi mingguan terhadap tenaga pengajar.
“Kami juga menerapkan sistem evaluasi setiap seminggu, yaitu di hari senin setelah upacara. Sistem ini untuk mengetahui perkembangan program sekolah  serta jika ada kendala, di sini kami bahas jalan keluarnya,” mantan Kepala SDN 64 Ladumpi ini.
Di balik kretifitasnya sebagai pimpinan yang ingin sekolahnya selalu terdepan, Kaslim tidak membusungkan dada, ia tetap mengharapkan perhatian Pemerintah Daerah (Pemda) untuk mendukung kebutuhan sarana dan prasarana sekolahnya. Salah satu kebutuhan mendesaknya ialah, empat ruang kelas belajar (RKB) di sekolahnya patut di hawatirkan, berhubung sekolah tersbut telah berumur dan dibangun sebelum terbentuknya Kabupaten Bombana.
“Saya sangat berharap Pemda dan instansi terkait agar memperhatikan sekolah kami, utamanya ruang belajar. Ada empat ruangan yang menghawatirkan, soalnya dibangun masih zaman kita gabung di Kabupaten Buton, kalau kencang angin perabot atasnya itu goyang, jadi kalau sedang proses belajar terus kencang angin saya suruh murid saya keluar,” ujarnya dengan nada khawatir.
Selain itu, Kaslim menambahkan kalau sekolahnya juga membutuhkan tambahan ruangan baru. Pasalnya, jumlah siswa yang ada telah mencapai 503 orang sementara ruang kelas belajar masih terbatas. Demi menaati aturan, terpaksa sebagian siswa terpaksa harus belajar siang. “RKB Sekolah tidak mencukupi, kalau semuanya belajar pagi, maka ada satu ruangan yang harus menampung 100 siswa. Sedangkan peraturan per ruangan, hanya diperbolehkan sampai 28 siswa saja per  kelas. Jadi kami terpaksa menerapkan proses belajar pagi dan siang,” ujarnya.
Kepemimpinan dan prestasi Kaslim pun menuai pujian. Di tempat yang sama, Supriadi, salah satu orang tua siswa SDN 33 Kasipute, mengakui bahwa perubahan drastis sangat terlihat pasca pergantian Kepala Sekolah. Dirinya sangat salut dengan program kerja sekolah tersebut. Menurtnya, SDN 33 memang layak menjadi sekolah percontohan.
“Memang banyak perubahan di SD 33, sangat terlihat perubahannya, yang menonjol itu rumah bacanya dan disiplinnya. Kalau kita jemput anak-anak kita sudah tau tepatnya jam berapa, dan sambil menunggu anak kita keluar, kita juga diperkenankan mampir di laica pobasaa untuk istrahat sambil membaca. Di situ ada koran untuk kita baca dan lain lain, bahkan sampah kita tidak ditemukan di halaman sekolah, dan sekolah ini memang tidak salah kalau disebut sekolah percontohan,” katanya. >>MR

Leave a comment