mediararakyat

Pembawa Suara Pembangunan Bangsa

KM. Inka Mina Jadi Barang Pajangan?

Published on May 02 2017 // Investigasi-Report

Natuna, (MR)
Sudah Enam bulan Kapal Bantuan KM. Inka Mina bersandar di Pelabuhan Nelayan Pring. Kapal bantuan dari Kementerian, berdaya muat puluhan ton. Proyek kementrian bantuan untuk nelayan ternyata bukan menguntungkan bagi nelayan. “Kita kira diberi Kapal, bisa menguntungkan Nelayan, teryata tidak.” ucap ketua Nelayan Pring. Bukan Untung yang dapat, malah buntung, begitu kiasan kata katanya.

Ia menduga proyek tersebut diluncurkan tidak sesuai kebutuhan nelayan, namun identik dengan sebuah keinginan pejabat kementerian, guna membelanjakan uang rakyat tanpa perencanaan yang baik sesuai dengan kebutuhan masyarakat di daerah itu.

Beberapa Nelayan yang di temui media rakyat, mengaku penggunaan kapal inka mina tidak efektif untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan. Hal itu diakibatkan besarnya biaya operasional harus di keluarkan jika Nelayan melaut.

Ketua kelompok nelayan Pring kelurahan Bandarsyah Andri mengungkapkan, kapasitas kapal sudah sangat besar dan cocok untuk nelayan Natuna, akan tetapi kelengkapan dan kondisi kapal itu sangat tidak mendukung bagi sekelas nelayan Natuna.

“Dulu kita senang mendapatkan kapal ini, cuma setelah di pakai sekitar 6 bulan, kami merasa tidak mampu mempergunakannya, karena biaya operasional terlalu tinggi,” kata andri di pasar ikan pring, minggu (16/4).

Andri menjelaskan kondisi kapal saat ini dalam keadaan normal hanya saja kapal itu sudah tidak di jalankan nelayan sejak beberapa bulan lalu dengan berbagai alasan di antaranya kapal tersebut di nilai sangat boros sehingga nelayan kewalahan untuk operasionalnya.

Selain boros, kapal itu juga di nyatakan tidak efektif untuk mencari ikan dalam batas waktu yang agak lama, karena Palka (penampung es) yang ada di kapal itu terlalu tipis sehingga persediaan es tidak bisa bertahan lama. Hal ini berdampak pada kerusakan ikan hasil tangkapan nelayan dan nelayan tidak bisa berlama-lama di laut.

Tidak hanya itu, dari sisi penggunaan kapal juga di nilai tidak tepat untuk sekelas nelayan tradisional Natuna, yang mana nelayan hanya baru bisa menguasai teknis memancing dan memasang bubu saja. Sementara kapal itu di design sebagai kapal penangkap ikan dengan sistim jaring.

“Mungkin inilah yang di maksud tidak sesuai spek dan tidak sesuai sasaran. Makanya kapal ini di istirahatkan di tempat saja, rugi kami memakai kapal itu bong, mendingan memakai pompong yang biasa-biasa saja,” terang Andri.
Semestinya, sebelum pemerintah mengadakan kapal itu, kondisi nelayan harus di kaji terlebih dahulu, sehingga pengadaan barang itu menjadi tepat sasaran dan bisa di pergunakan oleh nelayan secara maksimal.

“Mungkin pemerintah dulu, asal menurunkan saja tanpa mempelajari kondisi nelayan terlebih dulu. Akibatnya bantuan itu jadi sia-sia. Semoga saja ada solusi,” tutup Andri.

Sementara itu di laman whatsapp berbagai komentar pun bermunculan. Sebagian laman mengatakan, seharusnya Nelayan berterima kasih adanya bantuan kapal diberikan Pemerintah. Bukan harus mengeluh. Asik nak nyalahkan Pemerintah saja. Diberi kapal kecil, katanya ngak cocok, dikasih yang besar katanya boros. Ini namanya tidak tahu berterima kasih. Dibantu aja masih mengeluh, apalagi tidak dikasih. >>Roy

Leave a comment