Kemampuan Diplomasi Indonesia Dianggap Lemah

Jakarta (MR)

      Akibat kasus TKI di Luar Negeri, Publik menilai kemampuan diplomasi pemerintah Indonesia selama ini dianggap lemah, terutama dalam memperju-angkan nasib Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Hal itu mencuat kembali terkait sikap pemerintah dalam kasus dugaan pencurian organ tubuh tiga TKI asal Nusa Tenggara Barat. “Kita harus melihat secara keseluruhan. Contohnya untuk kasus tadi (3 TKI NTB), komunikasi yang dilakuan untuk menuntut pemerintah Malaysia melakukan investigasi kasus tersebut dipenuhi,” ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Michael Tene dalam diskusi polemik: Mengurus TKI Setengah Hati di Warung Daun, Jakarta, Sabtu (28/4).

Tene menegaskan komitmen pihaknya atas nasib warga negara Indonesia di luar negeri. “Bagaimana dinilai lembek atau tidak, yang jelas tuntutan kita sudah dipenuhi mereka,” lanjutnya.

Untuk mencari informasi terkait tewasnya tiga TKI yang ditembak polisi dekat Port Dickson, Malaysia, pemerintah mengirim tim investigasi sejak Selasa (24/4). Tim tersebut, kata Tene, mendapatkan akses informasi dari setiap pihak yang berkaitan.

Dalam kesempatan sama, anggota Komisi I DPR RI Poempida Hidayatulloh menyatakan pemerintah harus mencari solusi bila pendekatan diplomasi yang dilakukan tidak mempan. “Jangan seperti keledai, yang jatuh ke lubang sama dua kali. Saya enggak terima kalau bangsa kita sampai disebut bangsa yang bodoh,” katanya.

Pengamat hubungan internasional Universitas Padjadjaran Teuku Rezasyah menyarankan sistem pengawasan dengan memanfaatkan teknologi digital. Saat ini, sambungnya, sangat diperlukan pemanfaatan diplomasi digital termasuk dalam mengatasi persoalan TKI. Berdasarkan data Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, jumlah TKI di Malaysia mencapai 2,4 juta orang. >>Nokipa/Edi

Related posts

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.