Kadisdik Natuna “Dipolisikan”

Natuna,(MR)
ASWARI Natuna (Assosiasi Solidaritas wartawan Indonesi) Kamis pekan lalu resmi melaporkan Kadisdik Natuna Drs.Jasman Harun kepihak berwajib, Laporan tersebut disampaikan Ketua Aswari Natuna Andi Surya di Polres Natuna. Dengan no laporan.LP/52/VI/2012/SPKT/Kepri/NTN/14 juni 2012. Dalam laporan tersebut, Ketua Aswari menyatakan terkait peryataan Kadisdik Natuna, soal adanya Jatah Bulanan diterima Wartawan dari Dinas Pendidikan, serta jika buat berita baik-baik, tolong bisikkan ke narasumber, bisa mendapatkan uang Rp.200ribu-2 juta, dinilai penghinaan bagi wartawan.
Kita minta Jasman Harun dapat membuktikan ucapannya, kalau tidak berarti merupakan pelecehan dan penghinaan bagi wartawan. Sesuai pasal 311 ayat 1 tertulis, jika yang melakukan kejahatan pencemaran, atau pencemaran dibolehkan membuktikan apa yang di tuduhkan benar. Apa bila tidak dapat membuktikan ucapan, maka diancam melakukan fitnah, dengan pidana penjara paling lama 4 tahun.
Sejak merebaknya pemberitaan disalah satu media harian local, terkait peryataan Jasman Harun, yang menyatakan wartawan dapat jatah bulanan di Dinas Pendidikan, sejumlah media dan organisasi wartawan yang ada di Natuna, turut angkat bicara. Bahkan beberapa pimpinan organisasi wartawan di Natuna, menyatakan, peryataan Kadisdik Natuna, merupakan pelecehan bagi wartawan yang bertugas di Natuna, dan berjanji akan segera melaporkan penghinaan itu kepada aparat penegak hukum. Sayangnya, baru beberapa hari diucapkan, pimpinan organisasi di Natuna ini sudah “menjilat” kembali ludah yang dikeluarkan.
Bahkan oknum tersebut menjadi “sponsor” untuk  mengumpulkan semua wartawan, yang bertugas disuatu rumah makan, guna meminta klarifikasi Kadisdik Natuna dengan wartawan. Ada selentingan nada, menyebut itu hanya masalah sepele, buat apa diperbesar. Oleh karena itu timbul pertanyaan, ada apa dengan oknum Ketua organisasi tersebut. Awalnya “berkoar-koar,” lalu senyap bagai angin sepoy-sepoy. Yang lebih memilukan lagi, beberapa wartawan dan organisasi lain tidak datang, karena dianggap tidak merupakan undangan resmi dari Kadisdik, namun dalam porum tersiar kabar, wartawan  tidak hadir tak ada masalah. Informasi ini diterima dari beberapa rekan yang hadir pada saat itu.
Menanggapi peryataan tersebut, Ketua aswari Natuna Andi Surya, sangat menyayangkan ulah oknum wartawan. Jika memang merasa peryataan Jasman Harun itu, hanya ucapan sepele, jangan “berkoar-koarlah” dikoran. Saya minta jangan menjual nama wartawan, untuk kepentingan pribadi. Urus saja organisasi masing-masing. Bagi kami, ucapan Jasman Harun merupakan penghinaan bagi kulitinta yang bertugas di Natuna, ujar Andi.
Kalau memang Jasman Harun mau meminta maaf kepada seluruh wartawan khususnya di Natuna, seharusnya Dia meminta bantuan melalui Humas Pemkab Natuna, karena Humas merupakan corong Pemerintah dan telah punya keterikatan dengan wartawan. Bukan melalui oknum wartawan, kata  Andi lagi, oleh karena itulah kita tegaskan, Jasman kita laporkan Kepolisi, agar tidak ada lagi oknum yang mau menjual nama wartawan.
Hasil penelusuran dilapangan, beberapa Guru di SMA 2 Bunguran Timur mengaku tidak ada pelatihan jurnalis di sekolahnya. Hanya ada silaturahmi saja. Kami juga kanget, tiba-tiba Pak Kadis pendidikan datang, papar salah satu guru, sembari minta namanya tidak dimuat. Diakuinya, memang ada ekskul pelatihan jurnalis, makanya kita sambut, Cuma, kita ingin wartawan datang kasih gambaran saja, pada jam tertentu, Pastinya belum ada pelatihan jurnalis. Sementara itu, diberbagai media telah diterbitkan pemberitaan pembukaan pelatihan jurnalis untuk siswa SMA 2 Bunguran Barat. pertayaannya siapa yang benar?
Edisi lalu Jasman Harun, lelaki bertubuh jangkung, saat ini menjabat jadi Kadis Pendidikan Natuna. Berpenampilan necis dipadu dengan kaca mata minus, merupakan cirikasnya. Lelaki tinggi kurus ini selalu buat sensasi. Kadang apa yang dikatakan tidak diingat lagi, maklum umur sudah ujur dan sudah pantas pensiun, Akhir-akhir ini, sejumlah kulitinta di Natuna, merasa gerah dengan ulah bahasa yeleneh sang Kadis. Saat Jasman Harun dinobatkan menjadi tamu kehormatan dalam organisasi  Persatuan Jurnalis Natuna (PJN) ketika digelar pembukaan pelatihan jurnalis terhadap anak-anak sekolah di sisir basisir. Di Forum resmi, Jasman Harun berbicara lantang. Dengan gambling Ia  mengatakan wartawan jika menulis berita baik-baik bisa dapat uang Rp 200 ribu bahkan bisa 2 juta, dari nara sumber. Yang lebih menyakitkan lagi, Ia menyatakan Kadisdik Natuna menyediakan jatah bulanan untuk wartawan (lansir dari salah satu Koran harian). Dengan adanya bahasa tidak sedap ini sejumlah wartawan yang bertugas di Natuna-pun angkat bicara, Bahkan ada pihak yang menyalahkan PJN, Seharusnya PJN meralat bahasa itu jangan sampai dikonsumsi oleh masyarakat terlebih, anak-anak sekolah.
Ketua PIN Natuna Affuandris ketika dikonpirmasi lewat telepon selulernya, menganggap bahasa Kadis sebagai lelucon saja. Sebab dari awal Jasman sudah mengatakan permohonan maaf dan mengakui kalau Dia telah tua dan bodoh, kalau ada kekeliruan tolong dimaafkan, jelas Afuanris. Memang ada kekecewaan karena hal itu dikatakan didepan anak sekolah. Cuma saya juga heran kalau ada wartawan dapat menaikkan berita itu, pada hal Dia tidak ada meliput disana, Kalau mau menaikkan berita Tanya dulu yang bersangkutan, papar ketua PJN, Tolong konpirmasi balik sama pak kadis sarannya pada wartawan Koran ini.
Ketua PWI Natuna R.Filiang, dengan tegas mengatakan, tudingan Jasman Harun, terkait adanya Jatah bulanan Didisdik Natuna, serta wartawan, kalau mau menaikkan berita bisikkan dulu kenarasumber, nanti bisa dapatkan uang Rp.200.000 hingga 2 juta, dianggap penghinaan bagi wartawan. Ia dengan keras mengatakan, Jasman harus bisa membuktikan ucapannya, karena dianggap telah melecehkan kinerja wartawan (langsir dari salah satu media) dan berjanji akan membuat surat klarifikasi yang akan ditembuskan kepada Bupati dan Ketua Dewan.
Hal senada juga dikatakan, Ketua PWI Reformasi, Rikky Rinofki, ia beranggapan ucapan yeleneh Kadisdik Natuna telah melukai hati insane pers yang benar-benar bertugas di Natuna. Sebagai pablik pigur, serta tamu kehormatan PJN, seharusnya Jasman mampu menjaga etikat baik, Ia tidak seharusnya berbicara macam-macam tentang Pers jika tidak paham apa tugas wartawan. Dia berharap Jasman harus meminta maaf didepan semua kulitinta yang bertugas di Natuna, kalau tidak mau persoalan ini jadi ruwet.
Budi, Penasehat PWI-R mengkritik peryataan Kadis Pendidikan Natuna Jasman Harun, terkait adanya jatah bulanan pada wartawan dari Dinas Pendidikan. Peryataan itu dianggap telah mencoreng nama baik wartawan yang benar-benar melakukan peliputan berita. Kita mau Tanya  Kadis sama siapa diberikan jatah tersebut, paparnya saat diadakan temu ramah humas dengan wartawan.
Hasil informasi yang dihimpun dilapangan, membenarkan Jasman Harun, melontarkan bahasa nyeleneh, sehingga berdampak buruk kepada wartawan. Bahasa yeleneh ini dianggap sebagai penghinaan bagi kaum Pers, Oleh karena itu sejumlah wartawanpun akan segera mengambil sikap dan tindakan tegas. Tidak tanggung-tanggung, dari sejumlah lembaga kewartawanan yang ada di Natuna, akan segera mengambil sikap dan tindakan tegas, untuk melaporkan Jasman Harun kepada pihak aparat hukum.
Sementara itu Kadis Pendidikan Natuna Jasman Harun telah meminta maaf kepada wartawan yang mengespos berita nyeleneh itu. Dia mengakui telah dipasilitasi oleh salah seorang oknum wartawan, meminta Dirinya untuk bertemu dikediaman sang Kadis. Namun Ia meminta agar Jasman Harun meminta maaf jangan hanya padanya, melainkan kepada seluruh wartawan di Natuna, katanya di warung kopi. >>Roy

Related posts

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.