Kabupaten Bekasi: Pembangunan Jembatan Sumber Dana Banprov Desa Bantarsari Diduga Asal Jadi

Pebayuran/Kabupaten Bekasi, (MR)
Anggaran Bantuan Provinsi Jawa Barat (Banprov) yang sudah turun ke seluruh Desa-Desa di Kabupaten Bekasi pada bulan Desember yang masuk ke rekening Kepala Desa untuk di realisasikan dalam pekerjaannya/fisiknya, akan tetapi ada salah satu Desa di Kecamatan Pebayuran yaitu Desa Bantarsari tepatnya di Kp. Kuda-kuda RT 005/004 yang dalam pekerjaannya di duga asal-asalan karena di lihat dari fisik pekerjaan jembatan tidak sesuai Spesifikasi dan Rancangan Anggaran Belanja (SPECK/RAB).

Ketika wartawan mediarakyatnews.com menyambangi pekerjaan jembatan yang sudah selesai di kerjakan sungguh sangat memprihatinkan padahal anggaran Banprov tersebut nilainya lumayan besar kisaran Rp.100 juta tetapi dikerjakan asal Jadi dugaan yang sudah terlihat dari kasat mata fisik pekerjaan tersebut cuma hanya menghabiskan sekitaran Rp. 35/40 jutaan saja.

Di tambah tidak ada papan namanya pengumuman Proyek tidak ada padahal sangay penting agar khalayak publik mengetahui dan tercantum agar masyarakat menjadi tahu soal besar anggaran yang di gunakan, sumber dana dan jenis kegiatan yang di kerjakan sesuai Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik (KIP).

Selain itu salah seorang warga Desa Bantarsari A. Rohman mengeluhkan soal pembangunan dan hasil jembatan tersebut, jelas-jelas merasa kecewa dan kurang puas dengan hasil pembangunan jembatan yang dibiayai oleh Pemerintah Provinsi Jawab Barat melalui Kepala Desa Bantarsari.

“Saya mewakili masyarakat Bantarsari merasa kurang puas dan kecewa dengan adanya pembangunan jembatan yang di bangun oleh pemerintahan Desa Bantarsari dalam hal pembuatan pekerjaan jembatannya asal jadi,” ujar Rohman kepada wartawan mediarakyatnews.com, Kamis (10/01/2018).

Lebih lanjut, “dan kenapa kami sebagai masyarakat kecewa dan tidak puas dengan hasil pembangunan jembatan tersebut dikarenakan Kami Ragu dengan Mutu dan Kualitasnya. Pokoknya kami sangat kecewa ketika jembatan yang sudah di kerjakan hasilnya seperti ini coba lihat sendiri sama abang dari pegangan tangan aja pake baja ringan seharusnya pakai besi bulat ada kemungkinan dugaan kami sebagai masyarakat ada ke mungkinan tidak sesuai atau menyimpang dengan gambar yang sudah di buat oleh konsultan,” tuturnya penuh kecewa.

“Kami berharap agar para oknum Tim Pengawas Kegiatan dan Penegak Hukum segera melakukan tindakan tegas jangan sampai di biarkan begitu saja kuat dugaan dari kegiatan tersebut ada pihak-pihak yang meraup keuntungan besar,” ungkapnya.

Lebih diperkuat komentar dari salah seorang pekerja bernama Maman myang telah mengerjakan jembatan tersebut, Ia membenarkan apa yang di keluhkan masyarakat Desa Bantarsari, bahwa pembuatan jembatan dari sumber dana Banprov dalam pengerjaannya asal-asalan dan tidak sesuai RAB, hanya ingin meraup keuntungan yang lebih besar.

Dan lebih parahnya lagi bekas makan yang kerja meninggalkan hutang Rp 200 ribu sampai saat ini belum di bayar, “saya kasihan bang sama warga yang sudah mau masakin yang kerja untuk makannya dengan harapan di bayar ketika selesai pekerjaan, boro-boro mau nyari untung yang ada juga di tinggal pergi begitu saja,” ujarnya dengan nada geram saat di mintai komentarnya.

Napin bagian investigasi Lembaga Swadaya Masyarakat Jendela Informasi (LSM-JEKO), “saya akan laporkan dan layangkan surat ke Provinsi Jawa Barat dari LSM JEKO terkait pekerjaan pembangunan jembatan tersebut dalam pengejaannya asal-asalan agar si penerima anggaran Banprov harus mempertanggungjawabkan perbuatannya yang sudah menyalahi aturan dari Provinsi Jawa Barat,” tegasnya. >>Bemo

Related posts

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.