Cabuli Anak Dibawah Umur Dua Tersangka Diamankan Kepolisian Teluk Bintuni

Bintuni, (MR)
Polres Teluk Bintuni mengamankan dua orang pelaku pencabulan anak dibawah umur berinisial RS yang terjadi di SP 3 Distrik Manimeri belum lama ini.
Melalui press  release, Rabu 17 Januari 2018 pagi kemarin, kapolres Teluk Bintuni AKBP Andriano Ananta, SIK  di dampingi Wakapolres KOMPOL.Jupry Tampubolon dan Kasat Reskrim AKP.Alexsander Putra, SH,SIK di hadapan para awak media  menjelaskan, dua pelaku pencabulan yakni EY dan ZS ini sudah diamankan oleh penyidik di sel tahanan polres Bintuni. Dalam jumpa pers tersebut, juga di paparkan sejumlah alat bukti yakni berupa pakaian korban, pakaian pelaku, pakaian dalam pelaku, kendaraan bermotor, serta spanduk yang digunakan pelaku sebagai alas untuk melakukan aksi bejatnya.
Adapaun kronologis kejadian, kata kapolres Pada 12 januari, korban RS yang duduk dibangku SMP kelas 1 ini, dijemput saat pulang sekolah oleh pelaku pertama EY yang adalah tetangga korban, dengan alasan akan diantar pulang ke rumah di SP 3. Namun, alih-alih berjanji akan mengantarkan ke rumah, ternyata Korban di ajak ke sebuah rumah kosong di jalur 4 sp 3, disitulah pelaku melakukan aksi bejatnya. Namun, ternyata aksi pelaku EY ini diketahui oleh salah seorang saksi DM yang mencurigai pelaku saat membonceng RS sehingga mengikuti keduanya.
Setelah diikuti dan dicari, ternyata saksi melihat motor pelaku di sebuah rumah kosong, setelah dicari, pelaku EY muncul namun sudah tidak dengan korban. Saksi DM sempat menanyakan kepada pelaku EY namun menurut EY, korban RS sudah dipulangkan. Tak percaya dengan pernyataan pelaku EY, Kemudian saksi DM mencari RS dan tidak jauh dari TKP menemukan korban RS, lalu dibawa pulang ke rumah orang tuanya. Sesampainya di rumah keluarga korban, akhirnya Korban RS ini mengakui kepada pihak keluarga bahwa ia telah dipaksa melakukan hubungan seksual.
Menurut korban kejadian pencabulan ini, bukan pertama kalinya melainkan sudah yang ke tiga kalinya, di mana kejadian pertama terjadi pada bulan oktober dan November yang juga melibatkan pelaku ke dua ZS. Kejadian pertama dan ke dua ini terjadi ketika korban RS sedang mandi di sumur di mana setelah EY melakukan aksi bejatnya, pelaku RZ mengintip lantas meminta jatah bagiannya dengan mengancam pelaku, akan melaporkan ke orang tua jika tidak dilayani.
Mendengar penuturan korban, pihak keluarga lantas melaporkan pelaku kepada pihak polisi, dan disaat itulah tim penyidik polres melakukan penelusuran dan ditemukan ada pelaku lain yakni ZS polisi lantas bertindak menangkap kedua pelaku.
Aksi bejat ke dua pelaku ini bertentangan dengan pasal 76b junto pasal 81 ayat 1 dan atau dan atau pasla 76e junto pasal 82 ayat 1, UU No 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU No 23 tahub 2002 tentang perlindungan anak. Adapaun sanksi yang diterapkan pelaku akan dipidana penjara paling singkat 5 tahun dan paling lama 15 tahun, dan denda paling banyak 5 milyar rupiah.
Pada saat press release  Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan keluarga Natalia Okrofa bersama rekannya turut serta menyaksikan dan mendengarkan  apa yang di sampaikan oleh pihak kepolisian Polres Teluk Bintuni. Seusai press release Natalia saat di mintai keterangan menuturkan, pendampingan ini akan dilakukan dengan memberikan suport baik spirituil maupun materil kepada pihak korban RS dan keluarganya.
Dengan adanya kasus ini,  Natalia mengatakan pihak pemerintah yang berwenang penuh terhadap perlindungan anak dan perempuan ini mengaku prihatin terhadap kasus ini mengingat selama ini, badan selalu melakukan sosialisasi terkait kasus kasus seperti ini.
“Dan ini sangat merugikan dan merusak masa depan anak itu sendiri,” tegas Kepala Bidang Perlindungan Anak pada Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Teluk Bintuni, Natalia Okrofa.
Untuk itu kata Natalia Okrofa, ketika ada kasus kasus seperti ini, pihaknya selalu memberikan pendampingan kepada korban. Baik berupa dukungan, serta menyiapkan pengacara hingga membiayai  perjalanan keluarga korban dari Bintuni ke Manokwari untuk mengikuti sidang.
Dari kejadian seperti ini, Natalia menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk  memberikan fungsi dan kontrol yang baik terhadap anak, terutama anak perempuan. Ia juga memberikan apresiasi kepada pihak Polres, karena dengan cepat menahan pelaku pemerkosaan. Natalia berharap, pihak sekolah bisa mengawasi korban,sehingga tidak ada sikap sikap yang kurang menyenangkan dari teman teman sekolahnya. Dan korban bisa berkatifitas dengan normal seperti biasa. >>Haiser  Situmorang

Related posts

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.