Asbun, Rizal Fahlevi Bisa Kena UU ITE?

Natuna(MR)- Stekmen Gawur, dituliskan Riza Fahlevi, dilaman Face Booknya,sempat viral di media sosial. Stakmen tidak “berbobot” itu, membuat sebagian besar pemilik media online panas. Peryataan membuat media daring hanya bermodalkan  Rp.100.000 dinilai tidak mendasar dan salah kaprah. Padahal  saudara Riza, seorang jurnalis di media ternama. Sudah dipastikan, punya pendidikan tinggi. Sayangnya stakmen Riza tidak mencerminkan seseorang yang punya pendidikan tinggi. Postingan didalam Face Booknya ,bisa dikatakan telah menghasut, menghina dan melecehkan para pemilik media online. Ini harus disikapi, sehingga tidak ada lagi Riza-Riza lain berstakmen tidak pada tempatnya, demikian dikatakan Roy, salah seorang wartawan Natuna .

Dalam UU ITE,Pasal 45 ayat 3:
Setiap Orang  dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan *penghinaan* dan/atau pencemaran nama baik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling banyak Rp750.000.000,00 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah).

4.Pasal 45 ayat 4:
Setiap Orang ,dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan *pemerasan dan/atau pengancaman* sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (4) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

5. Pasal 45A ayat 1:
Setiap Orang ,dengan sengaja dan tanpa hak *menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen* dalam Transaksi Elektronik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

Peryataan Riza Fahlevi sudah bisa dikategorikan pidana, karena menghasut, menghina dan propokasi serta penyebaran beri hoax yang mengatakan buat media online modal Rp.100.000.

Inilah akibatnya, jika seseorang dibesarkan oleh media . Beda  dengan wartawan yang besarkan media. Zaman sudah digital, semua serba cepat. Jika merasa kalah bersaing, jangan memojokkan sesama jurnalis. Tunjukkan anda itu berada dimedia besar dan berkwalitas.Bukan buat trakmen sipatnya propokasi   ucap Roy.

Lain Halnya dengan Ketua AJO Indonesia Kepri. Jonni Pakkum memberikan Klarifikasi, atas tuduhan Reza terhadap media daring tidak benar, dan  buta dalam memberikan opini terhadap publik. Terlepas oknum wartawan tersebut  telah memberikan statement  perminta maafan.

Apalagi, opini yang dibangun  mengatakan sangat gampang membuat media daring dan hanya bermodalkan Rp100 ribu.

Ini petikan  cuitan Riza dilaman face booknya,
“Warga Batam harus cerdas memilih media, khususnya media online, mengingat saat ini sangat gampang membuat media daring ini. Hanya modal Rp100 ribu, sudah jadi. Anda bisa jadi wartawan, redaktur, pemimpin redaksi bahkan general manajer. Lalu bagaimana kualitas beritanya? Ini yang jadi masalah, ‘tulis Riza.

Selain itu dalam percakapan sudah di screenshoot, Riza juga menyampaikan bentuk ancaman akan menyebar artikel unggahannya, kesekolah-sekolah bahkan sampai ke pulau terluar.

“ Untuk media online yang brengsek, Saya akan sosialisasikan tulisan Saya ini kemana-mana dan Saya akan lawan kalian, “ lanjutnya menanggapi perbincangan rekannya dilaman facebook tersebut.

Menurutnya, mudahnya membikin media online serta untuk memenuhi kuota berita, media daring bisa menjadi media curator, dengan membuat salinan berita sesuai dengan kehendak.

Oleh karena itu,  Jonni Pakkun mengatakan,untuk membuat media online tidaklah semudah yang disampaikan oknum jurnalis tersebut, bahkan mengeluarkan biaya besar, ucapnya  Kamis, (7/3/2019) di Batam center

“160 media tergabung dalam organisasinya legalitasnya sudah jelas dan  bahkan sudah sebagian terverifikasi didewan pers,” katanya. Untuk biaya websaid sama akte notaris saja sudah puluhan juta, belum lagi urusan lainnya, bagaimana mungkin Saudara Reza bisa bicara demikian.

“Intinya jika membuat opini jangan tendensius, sehingga berpotensi membuat komplik, apalagi memposting di facebook, jeruk makan jeruk namanya itu,”ujarnya kembali

Hal sama juga disampaikan Pimred Batam Times. Co, Budi Karya, Ia mengatakan, sebagai wartawan senior, seharusnya Riza tidak membuat opini apapun tentang media daring, apalagi berkata  bermodalkan Rp100 ribu.

“Rp100 ribu baru domain, belum lagi jenis Web, jika pesan Web pro  harganya bisa jutaan.  Ini belum lagi untuk buat akte perusahaan serta izin usaha lainnya dan terakhir persyaratan verifikasi dewan pers.” papar Waka DPD AJO Indonesia Kepri

Jika tidak mengetahui detail pembuatan perusahaan media online, jangan pernah memberikan opini yang tidak jelas.

” Sekali lagi apapun itu namanya jangan pernah mengatakan media online itu mudah apalagi ia seorang jurnalis. Kabarnya saudara pelatih di bidang Jurnalistik,kok Stekmen ya begini .ujarnya.(tim)

Ini adalah tulisan tersebut,
Insinuasi, Fitnah di Balik Tanda Tanya
Oleh: Muhammad Riza Fahlevi

Warga Batam harus cerdas memilih media, khususnya media online, mengingat saat ini sangat gampang membuat media daring ini. Hanya modal Rp100 ribu, sudah jadi. Anda bisa jadi wartawan, redaktur, pemimpin redaksi bahkan general manajer. Lalu bagaimana kualitas beritanya? Ini yang jadi masalah.

Bukan rahasia lagi, menjamurnya media online ini, karena dirasa bisa mendapat duit dengan mudah. Misal berebut adsense dari Google.

AdSense adalah program kerjasama periklanan melalui media Internet yang diselenggarakan oleh Google. Pemilik situs web atau blog akan mendapatkan pemasukan berupa pembagian keuntungan dari Google untuk setiap iklan yang diklik oleh pengunjung situs, yang dikenal sebagai sistem pay per click atau bayar per klik.

Karena itu banyak media online yang berlomba menarik klik atau istilahnya klikbait dari pengunjung. Caranya dengan berlomba mengemas berita jadi klikable. Bisa melalui judul yang bikin penasaran dan sebagainya.

Karena dituntut harus memenuhi kuota berita, maka adakalanya media daring ini menjadi media kurator. Berita comot sana sini, lalu diframing lagi kembali sesuai keinginannya.

Apapun ini masih dirasa sesuai jalur. Namun yang disayangkan, fenomena menjamurnya media online ini banyak yang dipakai untuk memeras.

Modusnya: mereka mendatangi pejabat atau pengusaha agar pasang iklan untuk membiayai operasionalnya. Bila menolak, sengaja dicari cari kesalahannya, lalu dimuat di media tersebut dengan framing negatif.

Orang salah itu wajar, yang gak wajar adalah yang suka cari-cari kesalahan. Sebab, sudah busuk sejak dalam pikiran.

Namanya juga mencari cari kesalahan, jangan harap beritanya jernih. Ciri berita semacam ini gampang dikenali. Biasanya isinya tak jauh dari
mengarang bebas dan tendensi negatif. Lagaknya banyak mengumbar kalimat tanya.

Namun bila jeli, sebenarnya itu bukan pertanyaan tapi penghinaan dan fitnah yang dirumuskan dalam bentuk tanya.

Kalau pinjam istilah Profesor Mahfud MD, pertanyaan tersebut sama dengan kalimat, “Apa benar kamu berzina dgn ibumu? Kalau benar, apa alasannya?” Inilah yang disebut insinuasi.

Sebenarnya kalau mau, bisa saja awak media tadi dituntut di depan hukum. Karena selain sudah melenceng dari kaidah jurnalistik, juga sudah mengandung delik pidana.

Bagaimana berita insinuasi itu? Semoga contoh berikut ini bisa memberi gambaran. Misalnya ada berita begini:

Sejumlah kalangan tetap juga mempertanyakan pertemuan tersebut. Salah seorang pengusaha Batam, yang namanya enggan ditulis, mempertanyakan kehadiran seorang tokoh.

Menurut pengusaha tersebut, pertanyaan itu muncul setelah melihat foto pasca pertemuan. Bahkan ia juga menduga pertemuan itu didasari kepentingan politik dalam pengelolaan megaproyek. “Saya rasa pertemuan semalam pasti ada membahas tentang proyek,” ujarnya singkat.

Cara cara mengemas berita aemacam ini bukan saja jahat, namun bisa menurunkan kepercayaan masyarakat pada media daring. Sehingga jangan heran, survei terbaru, surat kabar tetap menjadi pilihan utama masyarakat dalam mencari kebenaran sebuah berita.

Semoga tulisan ini bisa menggugah kesadaran masyarakat untuk bisa membedakan mana media hoax dan fitnah, serta mana media yang benar benar memberitakan kebenaran.

Saran saya, tinggalkan media daring yang kualitasnya semacam itu. Merusak. ***

(muhammad riza falefi.

Related posts

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.